Tukang ojek online (ojol) yang kehilangan nyawa secara tragis akibat dilindas oleh mobil Barracuda Brimob bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah peristiwa yang mengoyak hati nurani dan mengguncang rasa keadilan kita. Tragedi ini mendapat sorotan dari berbagai kalangan sehingga menimbulkan berbagai macam perspektif yang marak diperbincangkan baik dari sisi hukum, etika, maupun sosial.
Aspek Hukum
Dari sisi hukum, peristiwa ini harus segera diusut tuntas. Mobil Barracuda adalah kendaraan taktis milik negara, yang semestinya dikemudikan oleh aparat yang terlatih dan patuh pada aturan lalu lintas. Di dalam video yang tersebar luas di media sosial, mobil barracuda yang dikendarai oleh aparat kepolisian dengan arogannya melintas dengan kecepatan tinggi padahal pada saat itu jalan raya masih dipenuhi oleh masyarakat yang sedang mangadakan aksi demonstrasi. Tragedi ini menumbulkan diskursus dimasyarakat, apakah kendaraan dinas yang digunakan oleh aparat memiliki kekebalan khusus dari hukum lalu lintas?
Aspek Etika
Secara etis, tragedi ini menunjukkan sisi gelap negeri ini, bahwa disparitas antara aparat dengan rakyat sangatlah tinggi. Aparat kepolisian yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan benar. Mobil Barracuda yang seringkali dianggap sebagai simbol kekuatan dan otoritas digunakan secara ugal ugalan untuk melindas rakyat kecil. Tragedi ini menimbulkan sebuah pertanyaan, seberapa besar aparat penegak hukum dalam menghargai nyawa rakyat kecil?
Aspek Sosial
Dari aspek sosial, tragedi ini merefleksikan ketegangan yang terjadi antara aparat penegak hukum yaitu kepolisian dengan rakyat sipil. Tragedi ini bukan hanya menjadi luka dan duka bagi keluarga korban, akan tetapi menjadi luka dan duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari tragedi ini pula rakyat merasa tidak dihargai dan diabaikan, padahal di negara demokrasi kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, akan tetapi hal tersebut hanyalah sebatas ilusi teori yang tidak akan pernah berarti bagi para penguasa dan oligarki.
Tragedi ini adalah sebuah pengingat pahit bagi kita semua. Lebih dari sekadar menuntut keadilan bagi korban, insiden ini harus menjadi momentum refleksi kolektif. Pemerintah, aparat, dan masyarakat harus bersama-sama menata ulang hubungan yang seharusnya terjalin: hubungan yang dilandasi oleh rasa hormat, empati, dan penghargaan terhadap setiap nyawa manusia, tanpa terkecuali. Tragedi ini adalah cerminan buram yang harus segera kita perbaiki agar tidak ada lagi nyawa yang terenggut sia-sia di bawah roda kekuasaan.
Penulis: Bangkit Wira Malik, S.H., Editor: Bangkit Wira Malik, S.H.
