Kemenangan dramatis Real Madrid atas Real Sociedad membuktikan mental baja mereka dengan skor akhir 2-1 yang digelar di markas Real Sociedad Reale Arena pada jornada keempat La Liga 2025/26, Sabtu (13/9) 21.15 WIB. Pertandingan ini tak hanya diwarnai oleh gol-gol indah, tetapi juga oleh keputusan kontroversial wasit yang membuat Los Blancos harus berjuang dengan 10 pemain selama hampir satu jam penuh. Meski di bawah tekanan, tim asuhan Xabi Alonso ini menunjukkan ketangguhan luar biasa untuk mengamankan poin penuh.
Sejak awal pertandingan, Real Madrid langsung menekan. Kualitas pemain mereka terlihat jelas, dan tekanan ini berbuah manis di menit ke-12. Kesalahan fatal datang dari gelandang Real Sociedad, Mikel Goti, yang melakukan umpan ceroboh di area pertahanan sendiri. Kylian Mbappe dengan cepat membaca situasi tersebut, kemudian merebut bola, dan tanpa kesulitan berarti menggiringnya ke dalam kotak penalti. Dengan ketenangan seorang penyerang kelas dunia, ia melepaskan tembakan datar yang tak mampu dijangkau kiper sehingga membawa Real Madrid unggul 1-0. Gol ini menjadi bukti nyata mengapa Mbappé didatangkan, insting mencetak golnya benar-benar tak tertandingi.
Namun, dominasi Real Madrid tidak berlangsung lama. Pada menit ke-32, sebuah momen krusial mengubah jalannya pertandingan. Real Sociedad melancarkan serangan balik cepat yang dimotori oleh penyerang andalan mereka, Mikel Oyarzabal. Saat Oyarzabal sedang berlari menuju gawang, bek muda Real Madrid, Dean Huijsen, melakukan pelanggaran untuk menghentikan pergerakannya. Wasit yang melihat insiden tersebut tanpa ragu langsung mengacungkan kartu merah. Keputusan ini sontak memicu protes keras dari para pemain dan ofisial Real Madrid, yang merasa hukuman tersebut terlalu berat. Huijsen pun harus meninggalkan lapangan, memaksa Real Madrid bermain dengan 10 orang selama sisa pertandingan.
Alih-alih goyah, Los Blancos justru menunjukkan karakter sejati mereka. Mereka merapatkan barisan pertahanan dan tetap berbahaya dalam serangan balik. Keajaiban pun terjadi menjelang babak pertama berakhir. Tepatnya di menit ke-44, Arda Güler, pemain yang dikenal memiliki kreativitas tinggi, menunjukkan kelasnya. Mendapatkan umpan manis dari Mbappé yang bermain lebih ke dalam, Güler mengontrol bola dengan sempurna di dalam kotak penalti. Ia kemudian melepaskan tembakan yang bersarang di sudut gawang Real Sociedad, membuat skor menjadi 2-0. Gol ini tidak hanya menggandakan keunggulan tim, tetapi juga menjadi pukulan telak bagi mental lawan.
Memasuki babak kedua, Real Sociedad berusaha keras memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Mereka meningkatkan intensitas serangan dan akhirnya mendapatkan momen penting di menit ke-56. Sebuah pelanggaran hand ball yang dilakukan Dani Carvajal di area kotak penalti membuat wasit menunjuk titik putih. Mikel Oyarzabal yang maju sebagai algojo berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna, mengecoh kiper Real Madrid dan memperkecil kedudukan menjadi 2-1. Gol ini sempat membuat ketegangan memuncak, namun pertahanan Real Madrid yang digalang dengan solid oleh sisa pemainnya berhasil menahan semua gempuran Real Sociedad hingga menit terakhir.
Pasca-pertandingan, pelatih Real Madrid, Xabi Alonso, mengutip dari Diario AS, dalam konferensi persnya secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan wasit. “Saya rasa kartu merah itu sangat tidak adil,” tegas Alonso. “Saya pikir wasit seharusnya memberikan kartu kuning, karena pada saat pelanggaran, lawan masih belum menguasai bola sepenuhnya, dan insiden itu terjadi sekitar 40 meter dari gawang. Itu bukan situasi yang mengancam gawang secara langsung.”
Pernyataan Alonso ini menambah bumbu drama pada kemenangan ini. Namun, terlepas dari kontroversi wasit, kemenangan ini menegaskan bahwa Real Madrid memiliki kedalaman skuad dan mental juara yang luar biasa. Mereka mampu bertahan dalam kondisi sulit, menunjukkan bahwa bermain dengan 10 orang tidak selalu berarti kekalahan. Tiga poin ini sangat krusial dan menjadi modal penting bagi Real Madrid untuk melanjutkan persaingan di papan atas klasemen La Liga musim ini.
Baca juga: (Membongkar Bobroknya DPR: Mengapa Membubarkan Bukan Solusi, dan Reformasi Total Adalah Keharusan)
Penulis: Bangkit Wira Malik, Editor: Bangkit Wira Malik
