Dosen Teknik Kritik Pengabdian Pembelajaran STEM Komunitas Peneliti Alinea (KOPI ALINEA)
Sumenep, 3 Agustus 2025 – Program pengabdian masyarakat berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang diusung oleh Komunitas Peneliti Alinea (KOPI ALINEA) di SMPN 3 Kamal mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Ir. Aditya Dandy Firatama, S.Tr.T., M.T., M.M., seorang dosen teknik di Universitas Annuqayah.
Menurut Dandy Firatama, kegiatan pengabdian yang mengajarkan pembuatan model tower crane, excavator dan alat berat khas teknik sipil dinilai sangat potensial dan inovatif. “Pembelajaran berbasis STEM pembuatan tower crane ini sangat bagus, karena memperkenalkan konsep teknik dan fisika secara aplikatif,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pendekatan hands-on semacam ini langka di kurikulum nasional yang kerap terjebak abstraksi. “Ini contoh ideal bagaimana STEM mengaitkan konsep teoretis dengan aplikasi dunia nyata sesuatu yang masih sulit diwujudkan secara sistemik di Indonesia.”
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konsep-konsep semacam ini, yang berhubungan erat dengan fisika pesawat sederhana, sebenarnya sangat relevan dan dapat diperkenalkan kepada siswa sejak dini, bahkan mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) atau Taman Kanak-kanak (TK), bukan hanya di Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Prinsip dasar seperti tuas, katrol, dan keseimbangan dalam tower crane bisa disederhanakan untuk pelajar muda. Semakin dini anak terpapar STEM kontekstual, semakin kuat pondasi literasi teknologinya”Pungkasnya.
Namun, Dosen Teknik tersebut menyayangkan bahwa kegiatan bernilai tinggi ini baru dilaksanakan di satu sekolah, yaitu SMPN 3 Kamal. “Kegiatan pengabdian ‘KOPI ALINEA’ yang hanya dilaksanakan di SMPN 3 Kamal seharusnya dilaksanakan lebih luas di berbagai sekolah,” tegas Dosen yang seringkali disapa Bapak Dandy ini. Ia berargumen bahwa pembatasan lokasi ini secara signifikan mengurangi dampak positif yang bisa dihasilkan. Memperluas jangkauan program ke lebih banyak sekolah, menurutnya, merupakan langkah krusial untuk memberikan manfaat yang lebih menyeluruh, menginspirasi lebih banyak siswa, serta menumbuhkan minat terhadap bidang STEM secara lebih masif di kalangan pelajar Madura dan Indonesia.
“Potensi besar program ini justru tereduksi oleh skalanya yang mikro. Padahal, inisiatif yang mampu menjawab masalah pembelajaran kontekstual seperti ini harus direplikasi secara masif,” paparnya. Ia mendesak KOPI ALINEA berkolaborasi dengan pemerintah daerah atau Kemdikbudristek untuk memperluas jangkauan ke sekolah-sekolah lain, khususnya di daerah dengan akses pendidikan STEM terbatas.
Kritik ini menyoroti dua isu krusial: pertama, urgensi transformasi metode pengajaran kontekstual di Indonesia melalui model STEM aplikatif; kedua, kebutuhan strategi diseminasi program pengabdian agar tidak stagnan sebagai “proyek percontohan” semata. Ke depan, Dandy berharap inovasi seperti KOPI ALINEA tidak hanya menjadi pilot project, tetapi berkembang menjadi gerakan sistematis yang menjawab kesenjangan kualitas pendidikan STEM nasional. Harapannya, kritikan konstruktif ini dapat menjadi masukan berharga bagi anggota KOPI ALINEA dan pihak terkait lainnya untuk memperluas jejaring dan menjangkau lebih banyak institusi pendidikan di masa mendatang.
